Duhai, sungguh terperangah dunia jika ada yang berhasil mengalahkan
kekuatan makhluk yang satu ini dalam memutuskan suatu hal atau memutuskan untuk
melakukan sesuatu. Tapi hal ini bukan barang langka, malahan jumlah dan
persediaannya hampir tidak terbatas. Jenis dan klasifikasinya juga hampir tidak
terdefinisi. Semua orang memilikinya. Biasanya menggunakannya untuk sebuah atau
beberapa tujuan yang menarik untuk diketahui orang yang diberikan hal ini,
diantaranya ada yang bahagia setelah mengetahui tujuannya dan sebaliknya. Mulai
dari tujuan yang baik sampai tujuan yang buruk atau bahkan sekaligus. Tapi
diantara jutaan kemungkinan dan ketidakpastian tujuan dari hal ini, hanya ada
dua yang benar - benar dipahami orang - orang didunia ini. Alasan yang jelas
dan sebaliknya, alasan yang tidak jelas.
Hal ini bukan barang yang langka untuk ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Mungkin suami tetangga sebelahmu yang terlambat pulang kerja, yang
biasanya jam 8, malam ini jam 9. Tak perlu simsalabim abrakadabra untuk segera
memunculkan sejenis alasan yang entah benar suaminya kerja lembur atau apalah
itu. Atau mungkin pagi hari yang seharusnya pukul 7.30 teman sebangkumu sudah
seharusnya berada dibangkunya, tapi yang kau temukan di pukul delapan lewat
lima malah dia sedang berdiri di sudut meja guru untuk menerangkan alasan
keterlambatannya pagi ini, yang kau dan seisi kelas dengar, mengerjakan tugas
hingga larut malam. Tak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya dibalik alasan
yang sehari-hari kau dengar disekelilingmu setiap hari. Ada yang gampang dan
ada kalut memeras pikiran demi menciptakan sejenis alasan yang lazim, lumrah
dan baru untuk melindungi diri atau sekedar berbasa-basi.
Yang sesungguhnya langka dari hal serupa alasan ini adalah, kebenaran yang
terkandung dalam alasan tersebut. Iya atau tidak, benar atau salah, true or lie? Kelangkaan ini terjadi
bukan karena mahalnya harga sebuah kejujuran di zaman ini. Tapi lebih kepada
keengganan seseorang orang untuk memilih berkata jujur. “Daripada gue
dimarahin?, daripada gue diejekin? Daripada gue ketahuan?”, itu cuma segelintir
“daripada” yang jadi penyebab mahalnya harga sebuah kejujuran yang terkandung
dalam sebuah alasan.
Terlepas dari semua hal terkait dengan kebenaran dalam sebuah alasan, ada
satu hal lain yang perlu di telaah dengan baik tentang tujuan seseorang
beralasan. Patut dan tidak patut dijadikan alasan, adalah sepasang hal yang
kadang-kadang tidak lepas dari hiperbola dan metafora. Terlalu melebar dan
menyempit, atau terlalu membesar-besarkan dan sebaliknya. Pantas atau tidak
pantas seseorang membuat sebuah alasan demi mengamini keinginan hatinya, sudah
jadi barang relatif untuk di jadikan permohonan maaf kepada diri sendiri untuk
menutupi nilai “tidak pantas” yang sejatinya tercetak di rapor rekor alasan
semua kesejatian nurani.
Seandainya semua orang
benar-benar melihat kedalam lubuk hati mereka yang paling dalam, apalah salah
alasan yang ia cipta dengan sekuat akal pikirannya? Ia lahir dari benak pemikir
dan dijadikan kambing hitam untuk mengelabui orang lain atas perbuatan yang dilakukan.
Walau orang yang pertama dibohongi adalah diri sendiri. Akan muncul sebersit
“sebenarnya” didalam hati usai kelar dari urusan mengalas perbuatan atau
keputusan itu. Secuil sesal memang tidak akan berarti besar untuk kembali
membeli keputusan yang sudah putus tadi, tapi selamilah sedalam sanubari.
Tanyakan pada diri sendiri, Pantaskah aku melakukannya? Benarkah yang sudah
kukatakan? Haruskah aku?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar