WeLcOmE tO CapCuS puSSS...

Logo Design by FlamingText.com



Sabtu, 23 Mei 2015

Alasan



Duhai, sungguh terperangah dunia jika ada yang berhasil mengalahkan kekuatan makhluk yang satu ini dalam memutuskan suatu hal atau memutuskan untuk melakukan sesuatu. Tapi hal ini bukan barang langka, malahan jumlah dan persediaannya hampir tidak terbatas. Jenis dan klasifikasinya juga hampir tidak terdefinisi. Semua orang memilikinya. Biasanya menggunakannya untuk sebuah atau beberapa tujuan yang menarik untuk diketahui orang yang diberikan hal ini, diantaranya ada yang bahagia setelah mengetahui tujuannya dan sebaliknya. Mulai dari tujuan yang baik sampai tujuan yang buruk atau bahkan sekaligus. Tapi diantara jutaan kemungkinan dan ketidakpastian tujuan dari hal ini, hanya ada dua yang benar - benar dipahami orang - orang didunia ini. Alasan yang jelas dan sebaliknya, alasan yang tidak jelas.
Hal ini bukan barang yang langka untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin suami tetangga sebelahmu yang terlambat pulang kerja, yang biasanya jam 8, malam ini jam 9. Tak perlu simsalabim abrakadabra untuk segera memunculkan sejenis alasan yang entah benar suaminya kerja lembur atau apalah itu. Atau mungkin pagi hari yang seharusnya pukul 7.30 teman sebangkumu sudah seharusnya berada dibangkunya, tapi yang kau temukan di pukul delapan lewat lima malah dia sedang berdiri di sudut meja guru untuk menerangkan alasan keterlambatannya pagi ini, yang kau dan seisi kelas dengar, mengerjakan tugas hingga larut malam. Tak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya dibalik alasan yang sehari-hari kau dengar disekelilingmu setiap hari. Ada yang gampang dan ada kalut memeras pikiran demi menciptakan sejenis alasan yang lazim, lumrah dan baru untuk melindungi diri atau sekedar berbasa-basi.
Yang sesungguhnya langka dari hal serupa alasan ini adalah, kebenaran yang terkandung dalam alasan tersebut. Iya atau tidak, benar atau salah, true or lie? Kelangkaan ini terjadi bukan karena mahalnya harga sebuah kejujuran di zaman ini. Tapi lebih kepada keengganan seseorang orang untuk memilih berkata jujur. “Daripada gue dimarahin?, daripada gue diejekin? Daripada gue ketahuan?”, itu cuma segelintir “daripada” yang jadi penyebab mahalnya harga sebuah kejujuran yang terkandung dalam sebuah alasan.
Terlepas dari semua hal terkait dengan kebenaran dalam sebuah alasan, ada satu hal lain yang perlu di telaah dengan baik tentang tujuan seseorang beralasan. Patut dan tidak patut dijadikan alasan, adalah sepasang hal yang kadang-kadang tidak lepas dari hiperbola dan metafora. Terlalu melebar dan menyempit, atau terlalu membesar-besarkan dan sebaliknya. Pantas atau tidak pantas seseorang membuat sebuah alasan demi mengamini keinginan hatinya, sudah jadi barang relatif untuk di jadikan permohonan maaf kepada diri sendiri untuk menutupi nilai “tidak pantas” yang sejatinya tercetak di rapor rekor alasan semua kesejatian nurani.
                Seandainya semua orang benar-benar melihat kedalam lubuk hati mereka yang paling dalam, apalah salah alasan yang ia cipta dengan sekuat akal pikirannya? Ia lahir dari benak pemikir dan dijadikan kambing hitam untuk mengelabui orang lain atas perbuatan yang dilakukan. Walau orang yang pertama dibohongi adalah diri sendiri. Akan muncul sebersit “sebenarnya” didalam hati usai kelar dari urusan mengalas perbuatan atau keputusan itu. Secuil sesal memang tidak akan berarti besar untuk kembali membeli keputusan yang sudah putus tadi, tapi selamilah sedalam sanubari. Tanyakan pada diri sendiri, Pantaskah aku melakukannya? Benarkah yang sudah kukatakan? Haruskah aku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar