Well udah lama banget sejak post terakhir yang gue upload ke blog
ini. sebenarnya bukan karena gue salah satu selebriti terkenal ibukota
(kecamatan), terlalu banyak jadwal syuting trus ga sempat ngepost. lebih
tepatnya selama lebih 2 tahun terakhir ini gue kehilangan sense of
writing yang ada dalam diri gue selama ini. Setelah gue selidiki,
dibantu oleh tim labfor bareskrim polda metro jaya, yang beranggotakan
gue dan beberapa temen imajiner gue, the problem was found.
1. Obsesi Urusan Organisasi
ini
nih yang pertama bikin dunia gue bersama kata-kata kehilangan waktu dan
kebersamaannya, bahkan disaat senggang sebelom bobo pun gue masih mikir
strategi jitu gimana caranya menguasai dunia ini. walaupun ini bukan
such a bad thing to do, tetep aja gue ga bisa bagi prioritas antara
organisasi dan kehidupan gue sendiri, termasuk kuliah yang setengah ajib
ga karuan dan hubungan dengan orang terdekat juga, yang sangat gue
sayangkan terjadi.
2. Too Much Time Wasted
Yeah! terlalu
banyak waktu berharga yang seharusnya gue pake buat nulis semua ide
yang udah lama berlumut dikepala gue, walaupun itu pertanda tingkat
polusi dikepala gue belom parah. Gue akui terlalu banyak ngabisin waktu
muda gue yang ga muda lagi buat ngerjain hal yang seharusnya gue kerjain
sekarang. Kebanyakan maiin dah pokoknya.
3. Hardest Time of My Life
Di
satu sisi gue bersyukur Allah masih ngasih ujian sama gue dan keluarga
dengan masalah yang satu ini, sehingga hubungan kita yang sempat
renggang antara kubu almarhum papa dan mama bisa nyatu lagi.
AtrioVentrikular septal defek, nama penyakit kongenital yang diberikan
Allah kepada kakak gue yang paling sulung. Penyakit ini merupakan
kelainan kongenital alias didapat sejak lahir oleh kakak gue. Salah satu
katup jantung yang misahin antara ruang ventrikel dan atrium dijantung
kakak gue mengalami kebocoran atau kelainan sehingga ga berfungsi dengan
baik untuk membedakan antara darah kaya o2 dengan darah miskin O2.
Butuh biaya yang besar untuk operasi rekonstruksi septum jantung kakak
gue, begitu juga dengan biaya kuliah kedokteran gue saat itu. Dalam
posisi yang luar biasa curam saat itu, gue udah pengen berenti kuliah
demi pengobatan kakak gue. Yang gue pikirin gimana mama harus menanggung
biaya pengobatan kakak sekaligus sama biaya kuliah gue. Gue sayang sama
kakak gue juga sama mama. mimpi mama untuk liat gue jadi soerang dokter
dan hidup kakak kaya dua sisi tali yang bagian tengahnya sedang
bertumpu di atas mata sebilah pedang. kalau gue tarik mimpi mama, udah
pasti hidup kakak putus bersama seutas potongan tali tadi dan
sebaliknya. I think it's just my time to cut off the rope and save life.
Semangat, passion dan mimpi mimpi gue sejenak hilang kaya embun pukul
6.30 pagi tadi. Kakak sianosis tiba tiba pagi itu. Seakan ga ada lagi
udara yang tersisa didepan hidungnya untuk dihirup, dia membiru kaya
belau di celana jins yang sedang gue cuci pagi itu. sebiru itu juga
perasaan gue saat dengar mama kabarin tentang kakak. Gue ga tau harus
ngapain, cuma zikir dan sholat duha yang bisa gue lakuin, harap cemas
keajaiban Allah datang untuk yang kesekian kalinya nyelamatin kakak gue
(lagi). Alhamdulillah pagi itu juga jam 10 kakak siuman di ICU RSUD Cut
Meutia. Gue ga tau sampe kapan Allah bakalan terus nyelamatin kakak
untuk bisa bertahan. Ironi emang datang di akhir bersama penyesalan yang
sepantasnya ga gue lakuin. Masuk FK dan menunda operasi kakak karena
pas 2011 kakak masih sehat sehat aja, padahal dokter udah nyaranin kakak
untuk dioperasi sejak 2009. Dilema antara gue lanjutin kuliah atau
kakak yang ngelanjutin hidupnya, beterbangan dikepala gue, kelap kelip
kaya kunang kunang di bulan Mei tahun 2013 itu. "Nak lanjutin aja
kuliahnya, mama ga papa kok, selama mama masih bernafas mama bakalan
terus ada untuk kalian, tahan sedikit lagi buat kakakmu, buat mama.
maafin mama yang ga bisa bahagiain kalian semua kaya anak anak lain.
yang mama bisa saat ini cuma sayang sama kalian. dan mama butuh
kepercayaan kalian untuk terus percaya sama mama". Tiga empat tetes air
mata untuk pembukaan akhir percakapan haru waktu itu. tiga sampai empat
puluh tetes lagi saat gue dialam bus balik menuju medan dengan segenap
keyakinan yang mama kasih sebelum gue berangkat.
4. Mind Lost
Diantara
semua penyebab yang mengawali keabsenan gue dari menulis, ini yang
paling aneh, MindLost. gue setiba tibanya hilang semua ide buat nulis
walau cuma sebaris frase. Ga tau harus mulai dari mana, apalagi
mengakhiri bagaimana. Sama sekali ga logis, padahal gue ga ada ketimpa
tv box 29 inch kemaren dah. Aneh bin fairy tale, gue kesusahan mencari
ide baru untuk maksa sebuah tulisan lahir dari ujung ujung jari gue.
Fine! gue nyerah untuk berhenti nulis sesaat.
5. Beras Plastik
Yang ini gue bohong, soalnya beras plastik baru ada isunya bulan mei 2015-an ini hehehe.
Nah
dari semua penyebab gue berenti nulis (FYI bahkan gue berenti nulis
tugas mingguan di kampus gue, log book), semuanya gue akui bikin susah
munculin keinginan buat nulis kecuali yang nomor 5. Cuma ada satu cara
gue bisa balikin mood nulis gue, yaitu dengan cara self forgiveness. gue
maafin kelalaian yang udah gue lakuin selama ini ninggalin passion gue
buat nulis dan gue nulis lagi. if one day you have to face something
that make yourself cornered to the unwilling position, forgive yourself
to let the problem go, out of your mind. Jadi lo bisa refresh pikiran lo
untuk ngelanjutin melakukan apa yang seharusnya lo lakuin, apakah itu
passion, hobi, kewajiban dan temen-temennya. Stay Sharp!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar